Minggu, 19 Mei 2013

Filsafat Keseimbangan
(Refleksi Metafisika Keberadaan Tuhan)
Khidir, nama seorang nabi yang Tuhan pilih untuk menjadi guru yang mengajarkan ilmu pada Musa dari sisi yang berbeda ( ilmu laaduni, pen). Dia pernah berujar ketika dia melihat seekor burung yang minum setitik air dari lautan kemudian dari paruhnya meneteskan sisa-sisa air yang dia minum kemudian jatuh ke bumi, “ilmuku ibarat air yang jatuh itu bila dibandingkan dengan ilmu Tuhanku yang mahaluas seluas lautan ini”. Padahal dia telah mengajarkan perihal yang tidak mungkin manusia pada umumnya dapat ajarkan pada yang lain, yaitu masa depan. Namun dia mengatakan bahwa ilmunya sangat kecil bila di bandingkan dengan pengetahuan yang dimiliki Tuhan.
Terdapat sebuah kekuatan yang Mahadahsyat di luar kemampuan manusia. Manusia bodoh bukanlah dia yang tidak mengerti terhadap sebuah persoalan, namun yang bodoh adalah dia yang merasa dirinya memiliki ilmu padahal ada yang lebih berilmu. Terdapat sebuah keyakinan bagi penulis pribadi terhadap kekuatan di luar sana yang Mahadahsyat. Apapun namanya, entah itu Alloh, Budha, Yahweh, al-Masih atau lain sebagainya. Jelas bahwa Dia memiliki kekuatan yang sunguh luar biasa. Dan penulis nyaman dengan sebutan Tuhan.
Kita beralih pada keseimbangan yang ingin penulis uraikan dan tidak terlepas dari hal metafisik seperti yang telah di uraikan sbelumnya. Keseimbangan sangat di butuhkan untuk menjalani kehidupan. Bagaimana tidak, seorang anak tidak akan mampu belajar tanpa keseimbangan. Dia harus menyeimbangkan pendengarannya terhadap seorang guru yang sedang menerangkan pelajaran, penglihatan dan juga fikiranya yang hendak menangkap penjelasan sang guru tersebut. Belum lagi diapun harus mencatat apa yang telah dia dapatkan sebelum fikirannya melupakan pelajaran itu. Begitupun dengan fikiran dan tindakan kita.
Dahulu ketika para filsuf awal lahir di bumi Yunani telah terjadi pertentangan hebat antara dunia ide dan empiris. Bahwa segala yang nyata itu hanya dalam ide atau justru yang real dan terindra? Kemudian para tokoh filsuf setelahnya banyak memberikan komentar-komentar dan pemikirannya masing-masing. Ada pula yang berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan menggunakan kedua metode tersebut. Terjadilah sebuah tesis kemundian timbul antithesis terhadap tesis yang ada akhirnya muncul sebuah sintesa yang berujung menjadi tesis bagi antithesis yang akan muncul kemudian, dan begitulah seterusnya.
Dari sebuah polemic yang terjadi harus selalu di garis bawahi bagi mereka yang selalu mengambil jalan bijak untuk dua term yang berbeda. Karena dia telah berusaha menyeimbngkan yang ada. Berajak pada metafisik.
Tuhan, kita tidak mungkin mengetahui Tuhan hanya dengan keimanan kita, namun butuh pemikiran yang mendalam untuk memahaminya. Dia yang mengaku beriman dan menjalankan perintah-perintah agama hanya dengan keimananya saja tidak lain dan tidak bukan hanyalah menjalankan kehidupannya secara pincang. Bagaimanapun orang pincang berlari tidak akan secepat pelari sempurna fisiknya. Bahkan mungkin dia akan terjatuh di tengah pelariannya dan terluka, atau mungkin lebih tragisnya, Mati.
Rasio atau kita kenal dengan akalpun tidak akan mencapai kesempurnaan dalam memahami Tuhan karena jelas sekali bahwa Tuhan adalah sebuah “kekuatn” yang abstrak dan metafisik. Indra tidak sanggup untuk mencapainya, atau mungkin belum untuk saat ini. Bahkan Tuhan-tuhan yang berwujudpun sebenarnya adalah hal yang metafisik seperti halnya pepohonan atau arca-arca dan artefak yang telah menjadi pujaan.
Dalam memahami Tuhan secara utuh harus menggunakan akal dan hati agar dapat mencapai anak tangga yang lebih tinggi untuk berpijak dan melangkah lebih jauh tentangnya. Pemikiran kita harus matang dan tajam, hati kita harus lembut selembut salju. Lagi-lagi keseimbangan sangat di butuhkan dalam ranah yang jauh lebih metafisik seperti Tuhan. Kita harus memiliki sintesa antara ketajaman analisa Barat ala Einstein dan para filsuf sebelumnya dengan kearifan berfikir sang Budha di Timur.[1] Karena sebenarnya disinalah bermula semua kejadian.
Begitupun ketika kita telah memahami Tuhan, tindakan dan ucapan kita harus sesuai dan seimbang dengan apa yang telah kita fahami tentang Tuhan. Ketika kita faham bahwa Tuhan itu ada maka kita harus meng’ada seperti halnya Tuhan ada. Ketika kita tahu dan faham terhadap tuhan yang kuasa maka kita pun harus berkuasa seperti halnya Tuhan berkuasa. Tuhan adil kita harus adil seperti halnya Tuhan adil, dan lain sebagainya.
Einstein pernah mengatakan bahwa ilmu tanpa iman adalah buta dan iman tanpa imu adalah pincang. Begitupun dalam hidup, ketika keseimbangan di tinggalkan maka yang terjadi hanyalah kepincangan dan kebutaan terhadap sesuatu yang tengah didalami. Mulai dari hal biasa sampai hal yang serius harus selalu meiliki prinsip keseimbangan.
Terlebih ketika kita mempelajri sebuah pengetahuan yang sungguh sangat mulia. Sebuah wawasan yang memiliki tujuan agar kita dapat mencapai sebuah kebenaran yang mutlak dan selalu berjalan di jalan kebenaran itu. Filsafat. Sebuah usaha pencapaian anak tangga tertinggi dalam kosmos yang begitu rumit tak terfahami.
Dalam teks mungkin kita temukan catatan-catatan yang terpendam tanpa pemahaman yang mendalam dan kritis, hanya sebatas iman yang berperan disana dalam memahami dengan meng’iya’kan apa yang tercatat. Dengan segenap daya fikir dan rasa yang kita miliki, teruslah berusaha untuk mencapai titik puncak pemahaman yang kamil (sempurna), walaupun dengan waktu kita yang terbatas oleh kematian. Tersingkapnya hijab-hijab tersebut entah kita dapati saat manusia masih menginjakan kaki di bumi atau mungkin ketika terjadi penciptaan dunia lain, aku tidak tahu. Namun teruslah berjalan di jalan itu.
Mengutip catatan dalam sebuah teks. “Katakanlah ‘seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti akan habis lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan lagi sebanyak itu pula.”[2] Sejalan dengan keyakinan awal bahwa kekuatan mahadahsyat itu memiliki kekuasaan yang begitu tinggi dan luas, maka tidak ada salahnya bagi kita untuk terus berusaha menyingkap segala apa yang ada agar dapa mencapai kesempurnaan itu walaupun maut menanti.
Jikalau akal kita telah Tuhan ciptakan dengan setitik kekuatan-Nya, maka mustahil bagi-Nya untuk takut terhadap ciptaan-Nya jika kita (manusia) gunakan untuk memikirkan-Nya.[3]


[1] Sains, teknologi dan masa depan manusia. M.T. Zen hal 42
[2] Al-qur’an surat al-kahfi ayat 109
[3] Catatan harian Ahmad wahib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar